SUKAMARA – Masyarakat Desa Jihing, Kecamatan Balai Riam, Kabupaten Sukamara, kembali menggelar ritual adat Menuba Meminta Hujan di Sungai Mapam, Sabtu (15/8). Tradisi turun-temurun tersebut menjadi ikhtiar spiritual masyarakat di tengah musim kemarau yang masih berlangsung.
Rangkaian kegiatan diawali dengan tatabuhan alat musik tradisional berupa gong, gandang, dan kenong. Setelah itu, tokoh adat merapalkan doa sebagai permohonan agar hujan segera turun serta masyarakat diberikan keselamatan dan keberkahan.
Tokoh adat dan masyarakat tampak tumpah ruah mengikuti prosesi di sepanjang Sungai Mapam. Kegiatan tersebut juga menjadi momentum mempererat kebersamaan sekaligus mempertahankan warisan budaya yang telah diwariskan antargenerasi.
Kegiatan turut dihadiri Bupati Sukamara H. Masduki, Sekretaris Daerah Sunardi, unsur Forkopimda, kepala OPD, camat, lurah, serta para kepala desa.
Kepala Desa Jihing Ali Suanto mengatakan, Menuba bukan sekadar kegiatan menangkap ikan, tetapi memiliki nilai budaya dan spiritual bagi masyarakat setempat.
“Ini tradisi adat Menuba meminta hujan yang kami laksanakan ketika musim kemarau panjang. Tujuannya tentu melestarikan adat budaya, mengingatkan nilai spiritual sebagai bentuk syukur, dan menjadi hiburan positif bagi warga,” ujarnya.
Dalam pelaksanaannya, Menuba menggunakan tujuh akar tuba sebagai bahan alami, bukan racun kimia. Penggunaan bahan tersebut dilakukan secara terbatas dan mengikuti ketentuan adat yang telah ditetapkan.
Terdapat batas wilayah tertentu di bagian hulu maupun hilir sungai. Ketentuan tersebut diberlakukan agar kegiatan berlangsung sesuai aturan adat. Pelanggaran terhadap ketentuan dapat dikenakan sanksi adat.
Bagi masyarakat Jihing, tradisi tersebut tidak hanya menjadi bagian dari kearifan lokal, tetapi juga ruang berkumpul dan mempererat hubungan antarmasyarakat.
Di tengah kondisi kemarau, ritual Menuba sekaligus menjadi bentuk harapan masyarakat agar hujan segera turun dan kebutuhan air dapat kembali terpenuhi.