Uncategorized
SUKAMARA – Turnamen olahraga tradisional balogo digelar di Kampung Merah Putih, Kelurahan Mendawai, Kabupaten Sukamara, selama dua hari, 7–8 Februari. Kegiatan yang diawali dengan seremonial pembukaan ini diikuti pelajar, masyarakat umum, hingga peserta dari luar daerah.
Turnamen yang berlangsung di Jalan Cakra Adiwijaya tersebut menjadi ajang silaturahmi sekaligus upaya melestarikan olahraga tradisional khas Kalimantan Tengah yang kini mulai jarang dimainkan dalam kehidupan sehari-hari.
Balogo merupakan permainan tradisional yang dimainkan secara beregu. Dalam satu tim terdiri dari lima orang, dengan tiga pemain inti dan dua pemain cadangan. Setiap pertandingan umumnya berlangsung selama 15 hingga 20 menit per babak.
Inti permainan balogo adalah merobohkan logo milik lawan. Logo dibuat dari tempurung kelapa yang direkatkan dan disusun berbaris atau menyerupai piramida. Untuk merobohkan logo tersebut, pemain menggunakan panapak, yakni alat pemukul yang biasanya terbuat dari bambu atau kayu. Tim yang berhasil merobohkan logo lawan paling banyak akan keluar sebagai pemenang.
Selain mengandalkan kekuatan, permainan balogo juga membutuhkan ketepatan, strategi, dan konsentrasi. Meski memiliki nilai olahraga dan budaya, balogo kini semakin jarang dimainkan dan umumnya hanya ditemui dalam perlombaan rakyat atau festival budaya, seperti Gawi Barinjam dan kegiatan pelestarian budaya lainnya.
Ketua Panitia Turnamen, Govi Lenardo, mengatakan kegiatan ini digelar untuk meramaikan kampung sekaligus membangkitkan kembali minat masyarakat terhadap permainan tradisional.
“Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka meramaikan kampung. Kami juga bertujuan untuk membangkitkan kembali permainan tradisional ini agar ke generasi seterusnya dikenal dan dipermainkan,” ujarnya.
Govi menambahkan, antusiasme peserta cukup tinggi. Turnamen ini diikuti hampir seratus peserta dari berbagai kalangan, termasuk pelajar. Selain peserta lokal, panitia juga mencatat kehadiran peserta dari Kabupaten Kotawaringin Barat.
“Untuk peserta Alhamdulillah cukup ramai, jumlahnya hampir 100 orang, dan peserta terjauh kami ada dari Kabupaten Kotawaringin Barat,” katanya.
Salah satu peserta asal Kabupaten Kotawaringin Barat, Pangkalan Bun, Ari, mengaku datang bersama lima rekannya untuk mengikuti turnamen balogo di Sukamara. Ia berharap turnamen serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan.
“Harapannya dengan diselenggarakannya lomba open tournament di Mendawai ini bisa berlanjut ke depan untuk perkembangan balogo,” ujarnya.
Ari juga mengungkapkan dirinya kerap mengikuti permainan dan perlombaan balogo, baik di daerah asalnya maupun di tingkat provinsi. Menurutnya, turnamen seperti ini penting sebagai wadah silaturahmi sekaligus pelestarian olahraga tradisional.
Melalui turnamen balogo yang melibatkan pelajar, masyarakat umum, dan peserta dari luar daerah ini, diharapkan olahraga tradisional khas Kalimantan Tengah tetap lestari serta dikenal dan diminati oleh generasi muda.